Keahlian Penggemukan Sapi RI Dipuji Australia

Jakarta – Asisten Menteri untuk Wakil Perdana Menteri Australia Luke Hartsuyker mengunjungi perusahaan penggemukan sapi atau feedloter PT Juang Jaya Abdi Alam (JJAA), di Lampung Selatan, sebagaimana disalin dari Antara, kemarin.

Rombongan Asisten Menteri Australia itu sempat mengunjungi kandang penggemukan sapi untuk melihat secara langsung proses penggemukan sapi dan mendapatkan penjelasan dari General Manajer PT JJAA Wiliam.

Kunjungan tersebut dalam rangka kerja sama antara pemerintah Australia dan Indonesia di sektor peternakan khususnya sapi dan daging merah. “Kunjungan saya ke tempat penggemukan sapi ini dalam rangka meningkatkan kerja sama Pemerintah Indonesia dan Australia di bidang peternakan,” katanya.

Ia mengakui senang dapat mengunjungi secara langsung tempat penggemukan sapi di PT JJAA dan diharapkan kerja sama di bidang peternakan antara Australia dan Indonesia akan terus berlanjut. “Kami memiliki industri peternakan yang sangat maju dengan kapasitas produksi cukup besar. Sedangkan Indonesia memiliki keahlian dalam bidang penggemukan sapi, sehingga kerja sama ini sangat baik untuk kedua negara,” ujarnya pula.

Asisten Menteri untuk Wakil Perdana Menteri Australia itu menjelaskan, kedua negara memiliki tujuan bersama di sektor peternakan. Australia, lanjutnya, dapat membantu di bidang keamanan pangan dan hal tersebut sangat penting bagi Indonesia. “Kerja sama ini sangat penting bagi kedua negara,” katanya pula.

Indonesia, menurutnya, merupakan pangsa pasar ternak sapi hidup terpenting dan terbesar Australia dengan ekspor sapi hidup sebesar 616.000 ekor pada 2016. Pada sisi lain, pihaknya mendukung kebijakan Presiden Joko Widodo yang beberapa waktu lalu mengunjungi Australia terkait perubahan kebijakan kuota tahunan ternak sapi hidup.

“Perubahan kebijakan itu menurut saya hasil yang baik untuk Pemerintah Indonesia dan itu merupakan bukti pertemuan dua pemimpin negara, Australia dan Indonesia. Kami juga berpartisipasi dalam bidang keamanan pangan,” ujarnya.

Luke Hartsuyker mengatakan Australia dan Indonesia saat ini memiliki kerja sama yang cukup kuat dan keras di sektor daging merah dan ternak sapi. Pihaknya juga membantu di bidang pengembangan keahlian ternak kepada Pemerintah Indonesia.

Kerja sama juga tak hanya sebatas jual beli hewan ternak saja, tetapi juga ‘skill’ bagi warga Indonesia untuk pengembangan hewan ternak. “Kami saling berbagi pengetahuan dan pengalaman, terutama bidang ternak. Saat ini kami kerja sama untuk kebijakan yang komprehensif bagi kedua belah negara dan sangat optimistis peluang kerja sama baru akan terwujud,” katanya pula. Ia menambahkan, peluang kerja sama itu diharapkan akan terealisasi saat pertemuan bisnis antara kedua negara Selasa (7/3) yang dihadiri menteri Australia.

Duta Besar Belgia untuk Indonesia, Patrick Hermann menyatakan kagum dengan keberhasilan Indonesia mengembangkan sapi jenis Belgian Blue dengan sangat baik di Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Saya sangat senang mendengar keberhasilan Indonesia mengembangkan sapi jenis Belgian Blue melalui teknologi transfer embrio dan inseminasi buatan,” kata Patrick saat mengunjungi BET Cipelang, sebagaimana disalin dari Antara, Minggu.

Patrick menyebutkan, keberhasilan Indonesia menjadi sangat penting terutama bagi negaranya, karena secara tidak langsung Belgia berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan melalui peternakan salah satunya di Indonesia. “Saya berharap Indonesia bisa menjadi unggul dalam memproduksi sapi-sapi berkualitas di Asia. Karena kita tidak hanya berbicara tentang kebutuhan sapi yang tinggi, tapi juga persoalan ketahanan pangan,” katanya.

Patrick juga kagum dengan kemampuan peneliti peternakan di Indonesia dalam mentrasfer teknologi dari luar dan mengkombinasikannya dengan teknologi dari dalam yang jarang dilakukan negara-negara lainnya. Dan BET Cipelang mampu membuktikan, penggunaan teknologi dari luar, berhasil diterapkan di Indonesia.

“Kedutaan Besar Belgia mendukung program Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan produksi daging dalam negeri. Melalui kerjasama transfer teknologi dari luar, dan mengkombinasikannya dengan budaya lokal. Untuk kemudian jangka panjang dimanfaatkan sumber daya lokal, menghasilkan genetik unggul, yang akan meningkatkan produksi daging,” kata Patrick.

Patrick melakukan kunjungan kerja di BET Cipelang yang berada di kaki Gunung Salak, ketinggian 800 mdpl untuk melihat keberhasilan BET memproduksi sapi Belgian Blue dari Belgia. Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Investasi, Syukur Iwantoro menyebutkan, sapi Belgian Blue, jenis sapi Belgia memiliki bobot mencapai 1,5 ton.

 

source : http://www.neraca.co.id/article/82078/sektor-peternakan-keahlian-penggemukan-sapi-ri-dipuji-australia